This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 04 April 2023

“Mengapa Kurikulum Perlu berubah”

 

Kurikulum Berubah, Apakah merupakan solusi?



Staf Khusus Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Pembelajaran, Hamid Muhammad mengatakan, perubahan kurikulum adalah satu hal yang tidak dapat dihindarkan. Masyarakat harus memahami mengapa kurikulum pendidikan sangat dinamis dan kerap berubah.

Dalam dunia pendidikan adanya kurikulum sangatlah penting. Arah dan tujuan pendidikan diatur di dalam kurikulum sehingga dalam merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran guru akan berpatokan pada kurikulum yang dipakai di satuan pendidikannya.

Mengapa kurikulum harus berubah ?

Kurikulum ya memang harus berubah. Mengapa ? tentu saja untuk menjawab tantangan zaman. Kurikulum tidak dapat dipergunakan dalam satu waktu terus menerus karena dunia terus berubah. Maka dunia pendidikan sebagai pilar utama dalam membangun dan mendidik generasi harus pula turut berubah.

Kurikulum harus selalu berubah agar sesuai dengan perkembangan zaman, Selain itu kurikulum juga harus mempertimbangkan kebutuhan belajar murid. Sebagai contoh, zaman saya sekolah komputer baru dipelajari pada masa SMA, itupun hanya sebatas menyalakan, memetikan dan mengetik saja. Coba lihat anak sekarang, mereka sudah lahir dengan teknologi di tangannya. Bayi saja sudah pandai memainkan layar gawai. Itulah mengapa kurikulum juga harus berubah, agar kita dapat menyiapkan generasi yang akan datang yang visioner dan mampu memandang ke depan.

Jadi, dapatkah Kurikulum berubah?

Kurikulum oprasional satuan pendidikan harus bersifat dinamis artinya dapat diubah sesuai perubahan dan perkembangan budaya dan zaman, selain mengikuti zaman yang sudah diadaptasi sesuai lingkungan geografis.

Kurikulum bersifat dinamis dan terus dikembangkan atau diadaptasi sesuai konteks dan kebutuhan peserta didik untuk membangun kompetensi sesuai masa kini dan masa yang akan datang.

Bagaimana untuk mewujudkannya?

Seluruh komponen masyarakat yaitu peran orang tua, masyarakat dan sekolah harus menempatkan kebutuhan, pendapat, pengalaman, hasil belajar serta kepentingan peserta didik sebagai pengembangan Kurikulum karena Kurikulum dirancang untuk kebutuhan peserta didik.


                                            ---TERIMA KASIH 😊😊💖---

Kamis, 17 November 2022

SMK dan Bimbingan Karir

 

IMPLEMENTASI BIMBINGAN KARIR 

DI SMK MUHAMMADIYAH LUMAJANG


    Karir merupakan kedudukan, rangkaian pekerjaan dan posisi yang pernah diduduki oleh seseorang selama masa kerjanya. Karir dapat menunjukan peningkatan maupun perkembangan pegawai secara individu pada suatu jenjang yang di capai selama masa kerjanya didalam organisasi.  Karir juga merupakan bagian dari kehidupan setiap orang. Bahkan karir bagi sebagian orang dianggap sebagai status yang dapat menghidupkan atau mematikan seseorang. Karir pun berhubungan dengan status sosial seseorang (Winkel & Hastuti, 2006). Menurut Super (dalam Brown & Isaacson, 1996) karir adalah serangkaian peristiwa di dalam kehidupan seseorang yang meliputi serangkaian jenis pekerjaan dan peran yang dimilikinya sehingga kesemuanya itu membentuk komitmen seseorang terhadap pekerjaan sebagai bentuk dari pengembangan dirinya. Sementara Seligman (1994) mendefenisikan karir sebagai suatu rangkaian peran atau posisi, yang meliputi kegiatan-kegiatan dalam pekerjaan, waktu luang, pekerjaan suka rela dan pendidikan. Super (dalam Seligman, 1994) membuat tahapan-tahapan perkembangan karir yang dicirikan dengan tugas-tugas yang spesifik pada masing-masing tahapan perkembangan karir tersebut. Perkembangan karir merupakan suatu proses yang mencakup seluruh rentang kehidupan seseorang. Hal ini berarti bahwa perkembangan karir seseorang bukan hanya dalam membuat suatu keputusan untuk memasuki jenis pekerjaan atau karir tertentu, melainkan merefleksikan seluruh pengalaman yang secara nyata berpengaruh dalam kehidupannya. Salah satu kunci sukses dalam berkarier adalah perencanaan yang matang. Perencanaan tidak hanya dibuat sekali, tetapi harus dilakukan berulang. Seperti halnya pemeriksaan kesehatan, karier pun butuh dicek secara berkala. Apalagi jika pekerjaan yang Anda jalani tidak sesuai ekspektasi dan tidak sesuai dengan bakat dan minat. Segera berpikir untuk menata ulang karier. Tidak ada kata terlambat untuk melakukannya.

    Perencanaan karier bukanlah suatu proses yang sulit ataupun menjadi beban. Bahkan sebaliknya, hendaknya ini dilihat sebagai proses yang memberikan makna kepada perjalanan karier anda. Proses ini akan membantu anda mencapai tujuan karier. Kesempatan untuk maju yang termasuk dalam program pengembangan dapat diwujudkan jika mereka diberikan kesempatan untuk mengikuti program pendidikan dan pelatihan. Program pendidikan dan pelatihan yang mana diikuti perlu direncanakan dengan baik, agar pada gilirannya mereka mempunyai kesempatan untk dipromosikan dipindahkan dari suatu jabatan ke jabatan lain yang mempunyai status dan tanggung jawab yang lebih tinggi.

    Bimbingan karir di sekolah dianggap perlu, dikarenakan dapat menjadi penunjang kemampuan dalam perencanaan karir yang akan ditempuh di kemudian hari. Bimbingan karir membantu siswa dalam memahami serta mengenal kemampuan dan ketertarikan siswa dalam suatu bidang. Sehingga dengan mengikuti bimbingan karir siswa diharap telah memiliki pandangan akan melanjutkan study atau langsung terjun ke dunia pekerjaan. Akan tetapi saat ini layanan bimbingan konseling yang diterima oleh siswa kurang optimal termasuk bimbingan karir, dengan alasan tidak adanya jam regular bimbingan konseling. Secara umum tujuan diselenggarakannya bimbingan karir di sekolah menurut Sukardi (1985:31-34) adalah membantu siswa dalam pemahaman dirinya dan lingkungannya, dalam pengambilan keputusan, perencanaan, dan pengarahan kegiatan-kegiatan yang mengarah kepada karir dan cara hidup yang memberikan rasa kepuasan karena sesuai, serasi dan seimbang dengan dirinya dan lingkungannya.

    Sedangkan tujuan khusus yang menjadi sasaran bimbingan karir di sekolah, di antaranya;

  • Meningkatkan pengetahuan tentang dirinya sendiri (self concept). Pemahaman diri (konsep diri) adalah merupakan citra diri sendiri. Hal ini nantinya sebagai langkah awal dalam menentukan arah pilih karir yang tepat bagi siswa sehingga tercipta adanya sikap kemandirian siswa dalam memilih karir yang sesuai dengan pemahaman dirinya
  • Meningkatkan pengetahuannya tentang dunia kerja. Pemahaman tentang dunia kerja meliputi pemahaman tentang informasi berbagai persyaratan penerimaan dalam dunia kerja, isi serta sifat suatu lapangan kerja, situasi pekerjaan termasuk dalam aspek sosial, fisik, administrasi, masa depan suatu pekerjaan, organisasinya, serta gaya hidup dalam suatu jabatan dengan dirinya.
  • Mengembangkan sikap dan nilai diri sendiri dalam menghadapi pilihan lapangan kerja serta menghadapi hambatan-hambatan yang mungkin timbul yang disebabkan oleh dirinya sendiri dan faktor lingkungan, serta mencari jalan untuk mengatasi hambatan-hambatan tersebut.
  • Meningkatkan ketrampilan berpikir agar mampu mengambil keputusan tentang jabatan yang sesuai dengan dirinya dan tersedia dalam dunia kerja. Melalui bimbingan karir siswa akan diarahkan dalam mengenal diri dan kemampuannya untuk memahami diri dan senantiasa mampu meningkatkan kemampuannya, melatih dalam merencanakan karirnya sehingga dengan demikian siswa menjadi terlatih dan bersikap dewasa dalam berpikir dan merencanakan karirnya.
  • Menguasai ketrampilan dasar yang penting dalam pekerjaan, terutama kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, berprakarsa dan sebagainya

SMK Muhammadiyah Lumajang (SMK MULU) merupakan salah satu SMK swasta yang berada di kota Lumajang, tepatnya di Jalan Letkol Slamet Wardoyo 103 Labruk Lor. SMK MULU berdiri sejak April 2012 dengan usia saat ini 10 tahun dan memiliki empat Kompetensi Keahlian diantarnya Layanan Kesehatan (LK), Teknologi Farmasi (TF), Teknik Laboratorium Medik (TLM) dan Broadcasting dan Perfilman  (BP) dengan jumlah pendidik dan kependidikan sebanya 53 orang dan 4 diantaranya adalah guru bimbingan konseling (BK). Guru Bimbingan konseling di SMK MULU memiliki multiperan dalam memberikan layanan kepada persrta didik diantaranya  sebagai berikut.

Memberikan gambaran karir terhadap peserta didik di SMK MULU

1.    Peserta didik diarahkan untuk memahami dan menilai dirinya, terutama potensi dasar (bakat, minat, sikap, kecakapan, dan cita-cita) yang terkait dengan dunia kerja yang akan dimasukinya kelak. Keberhasilan atau kenyamanan dalam suatu karier sangat dipengaruhi oleh kemampuan individu dalam memahami dan menilai potensi dasar yang dimilikinya. Oleh karena itu, setiap siswa perlu dibantu untuk memahami potensi dasar dirinya, sehingga mereka dapat menentukan pilihan atau mengambil keputusan yang sesuai dengan dunia kerja pilihannya tersebut.

2.      Peserta didik diarahkan untuk menyadari dan memahami nilai-nilai yang ada pada diri dan masyarakatnya, sehingga menumbuhkan sikap positif terhadap dunia kerja. Sikap positif berarti  individu tersebut mau bekerja dalam bidang pekerjaan apa pun tanpa merasa rendah diri, yang terpenting hal tersebut bermakna bagi diri dan lingkungannya, serta sesuai dengan norma agama yang dianutnya.

3.      Peserta didik diberikan wawasan untuk mengetahui lingkungan pekerjaan yang berhubungan dengan potensi dirinya serta memahami jenis-jenis pendidikan dan/atau pelatihan yang diperlukan untuk mengembangkan karier dalam bidang pekerjaan tertentu. Melalui pengetahuan dan pemahaman tersebut individu terdorong untuk membentuk

4.      Peserta didik diarahkan merencanakan masa depan, yaitu merancang kehidupan secara rasional untuk memperoleh peran-peran yang sesuai dengan minat, kemampuan, dan kondisi kehidupan sosial-ekonomi.

5.      Membentuk pola-pola karier, yaitu kecenderungan arah karier. Misalnya, apabila seorang siswa bercita-cita menjadi pekerja yang sesuai dengan kompetensi, dia senantiasa harus meningkatkan kemampuan kompetensi kejuruannya dan peserta didik juga dapat menentukan karir sesuai dengan pasionnya melalui program BMW (Bekerja Melanjutkan dan Wirasusaha)

Pengambilan Keputusan Karir

    Setelah melalui proses pengenalan karir yang telah digambarkan oleh guru BK peserta didik diminta untuk menentukan keputusan karir pada semester 2 untuk dilakukan pemetaan pada semester berikutnya. Pengambilan keputusan karir oleh peserta didik juga harus melibatkan orang tua sebagai penanggung jawab keputusan karir anak tersebut dengan tujuan agar karir yang diinginkan orang tua dan peserta didik memiliki arah yang sama. Pengambilan keputusan yang akan ditentukan oleh peserta didik terdapat 3 pilihan :

Bekerja

Pemilihan program bekerja terdapat 2 pilihan yaitu bekerja linier sesuai dengan kompetensi yang diambil di SMK dan bekerja yang tidak linier sesuai dengan kompetensi yang diambil di SMK

Melanjutkan

Program melanjutkan ditujukan kepada peserta didik yang akan melanjutkan ke perguruan tinggi, sehingga mereka akan dipersiapkan pembelajaran dengan tujuan mempersiapkan peserta didik siap bersaing di ujian penerimaan peserta didik di Universitas

Wirausaha

Program wirausaha dikhusukan bagi pesrta didik yang berminat untuk berwirausaha, dengan adanya pilihan wirausaha maka sekolah akan mendatangkan narasumber/ guru tamu yang dapat memberikan inspirasi dan membuka wawasan peserta didik dalam berwirausaha

Setelah adanya persetujuan antara peserta didik dan orang tua maka pada semester 3 peserta didik akan mengikuti pembelajaran sesuai dengan pemilihan keputusan karirnya

Rabu, 27 Juli 2022

Modul Ajar Fase F kejuruan keperawatan kelas XII

 Modul Ajar Pertemuan 2

Capaian Pembelajaran : 

Pada akhir fase F, peserta didik memiliki gambaran yang tepat dan menyeluruh mengenai Konsentrasi Keahlian Asisten Keperawatan dan Caregiver, peluang kerja setelah lulus, antara lain menjadi Asisten Tenaga Keperawatan dan Caregiver serta konsentrasi keahlian yang dipelajari, sehingga mampu menumbuhkan passion dan vision untuk merencanakan dan melaksanakan aktivitas belajar. Selain itu, peserta didik juga akan mampu memahami ilmu penyakit umum, kejiwaan sesuai tahapan usia, kebutuhan dasar manusia, keterampilan dasar tindakan keperawatan sesuai tahapan usia.


















Selasa, 26 Juli 2022

Modul Ajar Fase F kejuruan keperawatan kelas XII

 Modul Ajar Pertemuan 1

Capaian Pembelajaran : 

Pada akhir fase F, peserta didik memiliki gambaran yang tepat dan menyeluruh mengenai Konsentrasi Keahlian Asisten Keperawatan dan Caregiver, peluang kerja setelah lulus, antara lain menjadi Asisten Tenaga Keperawatan dan Caregiver serta konsentrasi keahlian yang dipelajari, sehingga mampu menumbuhkan passion dan vision untuk merencanakan dan melaksanakan aktivitas belajar. Selain itu, peserta didik juga akan mampu memahami ilmu penyakit umum, kejiwaan sesuai tahapan usia, kebutuhan dasar manusia, keterampilan dasar tindakan keperawatan sesuai tahapan usia.






























Sabtu, 16 Juli 2022

PRINSIP PEMBELAJARAN PTK DI INDONESIA

 

PRINSIP PEMBELAJARAN PTK

DI INDONESIA

Pendidikan mempunyai peranan yang sangat penting terhadap diri individu serta kebudayaan suatu masyarakat. Pendidikan kejuruan bermaksud menyiapkan peserta didik untuk memasuki lapangan kerja tingkat menengah tertentu yang sesuai dengan tuntutan yang dipersyaratkan oleh dunia kerja, dan memberikan bekal kepada peserta didik untuk mengembangkan dirinya. Pendidikan kejuruan dimaksudkan untuk menyiapkan tenaga terampil yang dibutuhkan di masyarakat.

Slamet PH (1990) memberi penjelasan tentang arti pentingnya pendidikan kejuruan: 
bagi (1) Peserta didik, adalah untuk: persiapan untuk kerja, perbaikan konsep diri, pengembangan kepemimpinan, persiapan untuk belajar lebih lanjut, memberi dasar untuk mencari penghasilan, persiapan karir lebih lanjut, penyesuaian terhadap perubahan.
Bagi (2) Organisasi/institusi, adalah untuk: memberikan pekerja yang terampil, memberikan etos kerja yang tinggi, meningkatkan produktivitas dan kualitas kerja, menghemat biaya operasional.
Bagi (3) Masyarakat, adalah: meningkatkan penghasilan, mengurangi pengangguran, menciptakan penduduk yang lebih baik. 
Bagi (4) Bangsa Indonesia, adalah: diselaraskan dengan kebutuhan pembangunan. 

Pendidikan kejuruan harus mengembangkan standar input, yang terdiri dari: 
Siswa: harus mempunyai sikap, bakat, kemampuan, dan motivasi untuk berhasil dalam program 
Guru: harus mendapatkan latihan yang cukup, pengalaman, pengetahuan dan teknologi serta cara mengajar keterampilan. 
Alat: harus sesuai dengan peralatan yang tersedia di lapangan kerja. 
Materi Pelajaran: harus lengkap dan memadai. 

pendidikan kejuruan dapat mengembangkan standar output yang terdiri dari: 
pengetahuan dan keterampilan khusus.
Penampilan di bidangnya
Kemampuan menyebarluaskan pengetahuan kepada masyarakat

Prinsip pendidikan kejuruan didefinisikan sebagai generalisasi untuk menyiapkan dan pelayanan arahan untuk program dan konstruksi kurikulum, evaluasi, seleksi praktik instruksional, dan kebijakan pembangunan.
Dengan kata lain: para praktisi pendidikan kejuruan dapat merencanakan/membuat program dan kurikulum pendidikan, evaluasi, dan proses pembelajaran maupun kebijaksanaan lain yang dikembangkan berdasarkan kepentingan dan perkembangan zaman atau IPTEK. 


SINKRONISASI KURIKULUM X DUNIA KERJA MERUPAKAN PERAN PENTING!!!
TIDAK HANYA MoU tapi LINK & MATCH 8+i

Saat ini, dalam pelaksanaan untuk mencapai pembelajaran PTK yang sesuai dengan prinsip-prinsip pendidikan teknologi dan kejuruan. Sekolah harus melakukan peenyelaran kurikulum sekolah dengan kebutuhan dunia kerja. Pemenuhan aspek input dan output akan dilaksanakan sesuai dengan gambaran dari hasil penyelarasan yang didapat.

Contohnya :

DALAM PEMENUHAN STANDAR INPUT
Mata Pelajaran :
Kurikulum yang digunakan saat ini tidak lagi mengacu pada KI/KD seperti pada kurikulum sebelumnya namun mengikuti capaian pembelajaran yang akan diitempuh oleh peserta didik agar mampu mereka kuasai. Dengan membedah capaian pembelajaran, lembaga sekolah tidak melakukan sendiri, namun perlu dilakukan kegiatan penyelarasan dengan dunia kerja agar capaian yang akan dicapai benar-benar sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
Guru :
Guru / Pendidik melakukan upskilling kompetensi dengan melakukan magang guru dan pelatihan-pelatihan yang mendukung kompetensinya
Siswa :
Peserta didik diberikan kesempatan untuk mengasah keterampilan dan kemampuanya dengan disertai budaya kerja atau nilai afektif sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Budaya kerja dunia kerja harus sudah disesuaikan dan diterapkan di sekolah supaya peserta didik benar-benar merasakan gambaran dunia kerja dari kompetensinya.
Alat
Peralatan sarana dan prasaran dibuat sebisa mungkin dan seminimal mungkin merupakan gambaran simulasi dari dunia kerja. Kebutuhan peralatan yang tepat disesuaikan dengan hasil pengamatan dan sinkronisasi dengan dunia kerja.

Sudah Sesuaikah Pelaksanaan PTK Saat Ini di Indonesia?

Saat ini seperti yang sudah diketahui bahwa pemerintah mengharapkan lembaga SMK mampu mengarahkan peserta didik dalam BMW (Bekerja, Melanjutkan dan Wirausaha). Program BMW ini tidak semata-mata sekolah pecah pada peserta didik saat peserta didik akan lulus, namun benar-benar terkonsep dan terfikirkan sejak peserta didik awal memasuki sekolah (saat PPDB). Tidak hanya peserta didik namun juga orang tua perlu di edukasi bahwa pentingnya untuk memiliki arah tujuan saat memasuki jenjang SMK. Saya rasa, bila program ini benar-benar terkonsep dan terlaksana dengan baik, maka tidak akan ada siswa yang bekerja tidak sesuai dengan yang diajarkan, karena dalam pembelajarannya siswa belajar sesuai dengan arahan minat dan bakatnya. Perlu diingat, bahwa yang diajarkan di sekolah tidak hanya melulu tentang kompetensi jurusannya, namun nilai-nilai kedisplinan, tanggungjawab, berfikir kritis, penyelesaian masalah, dan terampil merupakan bekal mereka dalam bekerja yang diajarkan sekolah terlepas bila pada akhirnya rejeki mereka bekerja tidak sesuai dengan minat dan bakatnya.

Attitude sangatlah penting. Namun, tidak menutup mata juga bahwa anak yang memiliki attitude baik namun tidak mampu sama sekali dalam skill juga menjadi hambatan dalam dunia kerja dan tentunya menjadi bahan evaluasi kepada sekolah. Inilah tugas pendidik untuk terus membudayakan attitude yang baik dalam keterampilan peserta didiknya. Seperti yang sering dapat diterapkan dalam pembelajaran, dalam melatih skill dan teori di kelas maupun bengkel, pendidik harus benar-benar mampu mengasah dan menstimulus peserta didik untuk membangun budaya kerja/attitude yang baik. Maka, hal tersebut akan menjadi pembiasaan peserta didik saat di dunia kerja nanti.

Karena, terkadang masih ada pendidik yang membuat pendekatan kepada peserta didik sehingga tidak ada batasan antara peserta didik dan pendidik. Peserta didik masih belum mampu membedakan ranah sekolah, kerja dan pertemanan. Hal inilah yang perlu diperhatikan dengan benar oleh pendidik dalam pembelajaran di sekolah.






Pendayagunaan Teknologi Informasi (TI) dalam Proses Pembelajaran Vokasi dan Blended Learning dalam Pembelajaran Vokasi

A. PEMBERDAYAGUNAAN TEKNOLOGI INFORMASI (TI) DALAM PROSES PEMBELAJARAN VOKASI

1.    PENGERTIAN TEKNOLOGI INFORMASI

Teknologi informasi mulai populer di akhir dekade 70-an. Pada masa sebelumnya istilah teknologi informasi dikenal dengan teknologi komputer atau pengolahan data elektronik atau EDP (Electronic Data Processing). Dalam kamus Oxford (1995), teknologi informasi adalah studi atau penggunaan peralatan elektronika, terutama komputer, untuk menyimpan, menganalisa, dan mendistribusikan informasi apa saja, termasuk kata-kata, bilangan, dan gambar.   Menurut Alter (1992), teknologi informasi mencakup perangkat keras dan perangkat lunak untuk melaksanakan satu atau sejumlah tugas pemrosesan data seperti menangkap, mentransmisikan, menyimpan, mengambil, memanipulasi, atau menampilkan data. Martin (1999), mendefinisikan teknologi informasi tidak hanya terbatas pada teknologi komputer (perangkat keras dan perangkat lunak) yang digunakan untuk memproses dan menyimpan informasi, melainkan juga mencakup teknologi komunikasi untuk mengirimkan informasi. Haag dan Keen (1996), teknologi informasi adalah seperangkat alat yang membantu Anda bekerja dengan informasi dan melakukan tugas-tugas yang berhubungan dengan pemrosesan informasi. Demikian juga, William dan Sawyer (2003), teknologi informasi adalah teknologi yang menggabungkan komputasi (komputer) dengan jalur komunikasi berkecepatan tinggi yang membawa data, suara, dan vidio.

 

2.    PERAN TEKNOLOGI INFORMASI DALAM PEMBELAJARAN VOKASI

Peran teknologi informasi pada aktivitas manusia pada saat ini sangat besar. Teknologi informasi telah menjadi fasilitator utama bagi kegiatan-kegiatan bisnis, memberikan andil besar terhadap perubahan-perubahan yang mendasar pada struktur, operasi, dan manajemen organisasi. Berkat teknologi, berbagai kemudahan dapat dirasakan oleh manusia. Pengambilan uang melalui ATM, transaksi melalui Internet yang dikenal dengan e-commerce atau perdagangan elektronik, transfer uang melalui fasilitas e-banking yang dapat dilakukan dari rumah, merupakan sejumlah contoh hasil penerapan teknologi informasi.

Menurut Kadir (2003), secara garis besar, dapat dinyatakan: (1) teknologi informasi menggantikan peran manusia. Dalam hal ini, teknologi informasi melakukan otomasi terhadap suatu tugas atau proses, (2) teknologi memperkuat peran manusia, yakni dengan menyajikan informasi terhadap suatu tugas atau proses, (3) teknologi informasi berperan dalam restrukturisasi terhadap peran manusia. Dalam hal ini, teknologi berperan dalam melakukan perubahan-perubahan terhadap sekumpulan tugas atau proses.

Selanjutnya Kadir dan Triwahyuni (2005), menyatakan banyak hal yang terjadi seiring dengan perkembangan teknologi informasi. Beberapa di antaranya ialah:(1) Teknologi informasi dalam dunia perbankan, (2) Teknologi informasi dalam dunia pendidikan, (3) Teknologi informasi dalam dunia bisnis, (4) Teknologi informasi untuk Kepolisian, (5) Teknologi informasi untuk perdagangan elektronis, (6) Teknologi informasi untuk perancangan produk.

Teknologi informasi juga dapat melahirkan fitur-fitur baru dalam dunia pendidikan. Sistem pengajaran berbasis multimedia (teknologi yang melibatkan teks, gambar, suara, dan video) dapat menyajikan materi pelajaran yang lebih menarik, tidak monoton, dan memudahkan penyampaian. Siswa atau mahasiswa dapat mempelajari materi tertentu secara mandiri dengan menggunakan komputer yang dilengkapi program berbasis multimedia. Kini telah banyak perangkat lunak yang tergolong sebagai edumeinment yang merupakan perpaduan antara education (pendidikan) dan entertainment (hiburan).

Rochaety, dkk (2006), menyatakan lima tahun terakhir, Teknologi Informasi yang berbasis internet betul-betul berkembang seperti jamur di musim hujan. Banyak perusahaan lima tahun lalu belum ada, sekarang sudah sukses dengan pendapatan miliaran dolar berkat bantuan Teknologi Informasi internet. Secara statistik jumlah situs (websites) di dunia telah berlipat ganda, jika dilihat pada http://www.isc.org/. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya teknologi informasi dalam dunia bisnis maupun dalam setiap aspek kehidupan manusia. Untuk menggunakan fasilitas internet seseorang memerlukan komputer pribadi (personal komputer); dengan demikian, tidak mengherankan jika perkembangan penjualan komputer mempunyai kecenderungan meningkat seiring dengan statistik pengguna internet. Oleh karena itu, perkembangan teknologi informasi akan mengubah cara hidup manusia dan proses perusahaan itu sedang dialami saat ini.

Lembaga pendidikan melihat bahwa teknologi informasi sebagai alat yang sangat menarik untuk membuat operasional organisasi lebih efisien. Tujuannya adalah menghapus posisi penyambung komunikasi dari dua tempat yang berkepentingan, juga menghapuskan batas waktu untuk operasi internasional dengan konsep real time. Oleh karena itu, sebuah lembaga pendidikan dapat melayani pelanggannya secara efisien. Biaya yang dikeluarkan juga akan lebih rendah karena pengurangan tenaga kerja; artinya teknologi informasi merupakan salah satu fasilitas lembaga pendidikan tersebut (share holder). Hubungan antarlembaga pendidikan juga mengalami evolusi ataupun revolusi sejalan dengan munculnya e-learning, e-school. 

Dengan perkembangan teknologi informasi yang demikian cepat dan merambah ke semua sektor kehidupan manusia, demand terhadap para ahli teknologi informasi pun semakin meningkat. Di samping dampak positif perkembangan teknologi informasi dalam mengubah berbagai aspek kehidupan manusia, dampak negatif pun muncul, yaitu adanya pengurangan tenaga kerja, ibarat dua sisi mata uang. Di sisi lain teknologi informasi menyediakan banyak peluang pekerjaan dengan kompetensi yang berbeda dari sebelumnya. Jadi, yang diperlukan adalah kompetensi tenaga kerja bidang keahlian teknologi informasi.

Perubahan wacana ekonomi yang kemudian diikuti oleh permintaan akan pekerja yang berpengetahuan (knowledge worker) telah memicu keberadaan beberapa lembaga pendidikan, terutama lembaga pendidikan tinggi, bahwa dalam proses pembelajarannya harus berbasis teknologi informasi (information and telecommunication based learning). Model pembelajaran ini diharapkan terus berjalan secara berkesinambungan dengan mengembangkan berbagai pendekatan untuk mencapai kondisi yang ideal agar dapat memenuhi tuntutan dunia bisnis. Namun, perjalanan yang ditempuh tidak semudah yang diimpikan karena sekecil apa pun ide yang mengarah kepada perubahan harus dihadapkan kepada berbagai kendala. Kendala tersebut di antaranya adalah kemampuan dalam menyesuaikan diri dengan tuntutan pasar (market adaptability), kesiapan para pendidik (guru, dosen), teknologi dan sarana penunjang lainnya, biaya dan perangkat kebijakan pemerintah.

Proses pembelajaran yang dilakukan dengan pendekatan e-learning tidak dapat disamakan dengan lembaga pendidikan pada umumnya, juga berbeda dengan pola pembelajaran konvensional yang hanya menggunakan metode tatap muka. Proses pembelajaran e-learning adalah perpaduan antara metode tatap muka dengan metode on line (via internet dan berbagai pengembangan teknologi informasi lainnya). Metode pembelajaran tradisonal saat ini memerlukan sebuah perubahan dalam kaitannya dengan proses adaptif dan mempersiapkan para peserta didik agar siap menjadi knowledge workers, di mana ilmu pengetahuan menjadi faktor yang sangat penting. Berdasarkan penelitian UNESCO dalam Work Bank: pada negara berkembang sangat diperlukan adanya perubahan pendekatan dan paradigma pembelajaran. Jika tidak demikian, negara berkembang tidak akan mampu bersaing di era ekonomi yang berlandaskan ilmu pengetahuan (knowledge ebenomic era). Era tersebut mengharuskan para pekerjanya secara cepat menemukan berbagai informasi yang diperlukan, menimbang dan mengevaluasi informasi tersebut agar memiliki tingkat akurasi yang tinggi dan tidak bias, serta mempergunakan informasi tersebut untuk mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi.

Dalam hal ini perlu ditumbuhkan kemandirian pada diri pendidik untuk membuat mereka menjadi lebih independen dan akan memperkaya mereka dengan kemampuan dalam menguasai ilmu pengetahuan di luar kelas. Aspek lain yang perlu terus ditanamkan terutama pada pendidikan tinggi adalah konsep yang menyatakan belajar adalah sebuah proses yang tidak akan pernah berhendi (lifelong learning process). Untuk saat ini, sejumlah peserta didik pada jenjang strata satu (S-1) dan strata dua telah bekerja. Kenyataan ini mengharuskan adanya perubahan paradigma dan pola pendekatan pembelajaran yang akan dilakukan, di antaranya karena peserta didik yang dihadapi adalah individu yang memiliki pemikiran kritis, telah memiliki cara untuk belajar, memiliki kemampuan untuk mengumpulkan dan menggunakan ilmu pengetahuan yang dimilikinya, dan memiliki kecenderungan untuk terus melanjutkan studi mereka.


 

KESIMPULAN

            Pendekatan dalam pengembangan teknologi informasi dewasa ini, sejalan dengan kecenderungan yang berkembang di dunia Internasional dalam konteks penggunaan teknologi informasi dalam pendidikan. Masing-masing lembaga pendidikan harus berupaya untuk menemukan dan mengembangkan satu pendekatan yang cocok sesuai dengan potensi yang dimiliki, sebab pendekatan pengembangan teknologi informasi memberikan kontribusi berarti terhadap pengembangan kemajuan pendidikan di masa yang akan datang.

         Peran teknologi informasi dalam dunia pendidikan sangat penting, misalnya siswa atau mahasiswa dapat mempelajari materi tertentu secara mandiri dengan menggunakan komputer yang dilengkapi program berbasis multimedia. Kini telah banyak perangkat lunak yang tergolong sebagai edumeinment yang merupakan perpaduan antara education (pendidikan) dan entertainment (hiburan).

         Teknologi internet ikut berperan dalam menciptakan e-learning atau pendidikan jarak jauh. Kuliah tidak lagi harus dilakukan dengan suasana kelas di mana mahasiswa dan dosen bertemu. Kuliah dapat dilaksanakan dengan mengakses modul-modul kuliah dari jarak jauh. Begitu pula untuk pengiriman tugas dan berdiskusi. Para mahasiswa dengan leluasa dapat mengatur waktu untuk belajar, kapan saja dan di mana saja.

         Perguruan tinggi dalam menyajikan berbagai fasilitas pendukung kelancaran proses belajar mengajar bekerja sama dengan pihak perbankan untuk menggunakan sebuah kartu ATM (automatic teller machines = ajungan tunai mandiri) yang pada umumnya digunakan untuk penarikan uang tunai, tetapi bagi mahasiswa perguruan tinggi tersebut sekaligus dapat digunakan untuk mengakses kepentingan yang berhubungan dengan perkuliahan seorang mahasiswa, seperti mengakses nilai-nilai mata kuliah, di mana mahasiswa tidak perlu datang ke bagian administrasi akademik untuk menanyakan nilai, mereka hanya cukup sedikit waktu untuk meng-click file tertentu, maka dalam beberapa hitungan menit atau detik data yang dibutuhkan dapat dilihat secara jelas.

            Vokasi pendidikan tinggi tampak jelas dengan adanya banyak pendidikan tinggi swasta di ruko- ruko, karena pendidikan telah berubah menjadi pelatihan, sehingga tidak memerlukan suatu kampus pendidikan.

 


 B.  BLENDED LEARNING DALAM PEMBELAJARAN VOKASI



Blended Learning merupakan pembelajaran yang menggabungkan aspek-aspek terbaik dari pembelajaran tatap muka dengan keunggulan pembelajaran online. Model pembelajaran ini sangat cocok diterapkan dalam pembelajaran vokasi karena keharusan mengembangkan kompetensi motorik yang bisa diperoleh melalui praktik langsung. Sementara itu, tersedianya sumber belajar online yang dapat diakses kapan saja dan dari mana saja menjadikan pembelajaran tersebut sangat fleksibel.

Instrumen yang digunakan adalah kuesioner, lembar observasi, dan tes kognitif, afektif, dan psikomotorik. Hasil penelitian adalah (1) Model blended learning meliputi: (a) komponen filosofis esensialisme dan pragmatisme; (b) teori belajar: behaviorisme, kognitivisme, dan konektivisme (c) komponen 4C yaitu komunikasi, kolaborasi, kerjasama, dan kreativitas; (d) komponen revolusi industry 4.0: mencakup pembelajaran dengan elemen digital dengan literasi data, literasi teknologi, dan literasi manusia. (2) Model blended learning yang berpusat pada pembelajaran yang dilakukan secara offline dan online menjadikannya memiliki proporsi pola pembelajaran yang jelas. Fleksibilitas belajar kapan saja dan di mana saja melalui komunikasi tatap muka, serta interaksi online menggunakan chat dan forum online untuk menggali pemikiran kritis melalui diskusi. Termasuk juga unsur mahasiswa untuk berkreasi dan inovatif dalam proyek dan perbaikan proyek, serta bahan ajar online yang dibuat menarik dengan kehadirannya.komponen multimedia (teks, gambar, dan video). (3) Produk hasil berupa buku model, buku pedoman dosen dan pedoman mahasiswa, serta buku teks yang dinyatakan valid dan praktis sehingga model blended learning dapat diterapkan dalam pembelajaran. (4) Pencapaian yang ditemukan berkaitan dengan kemampuan kognitif, afektif, psikomotorik dan 4C.

Pendidikan kejuruan merupakan investasi masa depan karena keterampilan yang dipelajari siswa dalam seluruh prosesnya pendidikan vokasi dapat dimanfaatkan untuk memasuki dunia kerja. Pembelajaran kejuruan di Abad XXI adalah waktu untuk merancang, mengembangkan, mengimplementasikan dalam menanggapi era disrupsi, baik secara mendasar kompetensi, indikator pencapaian kompetensi, tujuan pembelajaran, media pembelajaran, metode pembelajaran, dan strategi pembelajaran yang perlu dikembangkan dan disesuaikan dengan kebutuhan era disrupsi[1]. Oleh karena itu, pendidikan vokasi harus mampu menghadapi era disrupsi saat ini. Perkembangan revolusi industri 4.0 memungkinkan adanya inovasi pembelajaran salah satunya secara online pembelajaran untuk memfasilitasi kegiatan belajar tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Melalui pembelajaran online, siswa mampu menyelenggarakan pendidikan yang dapat diakses dimana saja dan kapan saja meskipun ada wabah Covid-19 yang orang harus menghindari kontak langsung. Pembelajaran di era saat ini membutuhkan transformasi pembelajaran online dimana peran instruktur sebagai fasilitator dapat dengan mudah memperbarui bahan ajar dan belajar secara fleksibel [3]. Beragamnya kebutuhan praksis dalam pembelajaran kejuruan mendorong dilakukannya penelitian dan pengembangan model pembelajaran yang baik. Salah satu yang dibutuhkan dalam revolusi industri 4.0 adalah blended learning [3]. Konsep blended dikenal dengan berbagai nama seperti hybrid, blended, mixed learning dan mixed learning [4]. Blended learning itu sendiri secara umum diterima secara luas sebagai pendekatan pembelajaran terpadu dengan pendekatan tatap muka tradisional dan yang didukung melalui komputer berbasis web atau online [5]. Model blended learning adalah model pembelajaran modern yang populer di perguruan tinggi, yang menggabungkan lingkungan online dan tatap muka, yang bertujuan untuk meningkatkan pembelajaran dengan adopsi teknologi web baru 

 

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil kajian pengembangan model blended learning, berikut kesimpulannya dapat ditarik: (1) Komponen model blended learning meliputi: (a) komponen filosofis esensialisme dan pragmatisme; (B) teori belajar: behaviorisme, kognitivisme, dan konektivisme (c) 4C komponen komunikasi, kolaborasi, kerjasama dan kreativitas; (d) komponen revolusi industry 4.0: mencakup pembelajaran dengan elemen digital dengan literasi data, literasi teknologi, dan literasi manusia. (2) The model blended learning adalah pembelajaran yang dilakukan secara offline dan online sehingga memiliki proporsi pola pembelajaran yang jelas. Fleksibilitas belajar di mana saja dan kapan saja melalui fasilitas komunikasi tatap muka, maupun online interaksi menggunakan chat dan forum untuk menggali pemikiran kritis melalui diskusi. Juga termasuk elemen mahasiswa untuk menjadi kreatif dan inovatif dalam menghasilkan produk melalui proyek dan peningkatan proyek, serta bahan ajar online yang dibuat menarik dengan adanya komponen multimedia (teks, gambar, dan video). (3) produk yang dihasilkan berupa buku model, buku pegangan dosen, buku pegangan mahasiswa, dan buku ajar, yang dinyatakan valid dan praktis sehingga model blended learning dapat diterapkan dalam pembelajaran. (4) capaian yang ditemukan terkait kompetensi kognitif, afektif, psikomotorik dan 4C.



Photo Galery

Prodmat 1
Prodmat 2
Prodmat 3
Prodmat 4
Prodmat 5